Jangan Suka Ngibul, Ini Efek Berbohong Bagi Kesehatan
Jumat, 8 Februari 2019 07:07 WIB
Share
Foto : Istimewa

Jangan Suka Ngibul, Ini Efek Berbohong Bagi Kesehatan

 
Jakarta - Siapa yang masih suka berbohong? Yuk deh mulai sekarang belajar berani untuk mengucapkan kata-kata yang jujur demi peningkatan kesehatan.

Anita Kelly, seorang profesor psikologi di Universitas Notre Dame, Indiana, menghabiskan 10 minggu melacak kesehatan 110 orang dewasa. Dia meminta setengah dari mereka untuk berhenti berbohong selama masa studi. Peserta masih bisa menyimpan rahasia dan menghindari pertanyaan yang tidak ingin mereka jawab.

Setengah lainnya tidak diberi instruksi khusus, mereka hanya diminta untuk melaporkan jumlah kebohongan yang mereka katakan setiap minggu. Selain mengambil tes pendeteksi kebohongan setiap minggu, para peserta mengisi kuesioner tentang kesehatan fisik dan mental mereka, serta kualitas hubungan mereka.

Hasilnya, kedua kelompok ini berbohong lebih jarang. Akan tetapi, ternyata orang yang diminta untuk mengatakan kejujuran lebih mendapatkan peningkatan kesehatan.

"Kami menetapkan dengan sangat jelas bahwa dengan sengaja mencoba untuk tidak berbohong membuat orang mengatakan lebih sedikit kebohongan," kata Kelly.

"Ketika mereka mengatakan lebih banyak kebohongan, kesehatan mereka turun. Dan ketika mereka mengatakan yang sebenarnya, itu (tingkat kesehatan) membaik."

Meski demikian, peneliti sepakat ini juga dipengaruhi lebih dari sekadar faktor hubungan, seperti dikutip dari U.S News.

Penelitian tentang bagaimana berbohong memengaruhi kesehatan memang masih sedikit, tetapi berbohong diduga memicu pelepasan hormon stres, meningkatkan detak jantung dan tekanan darah. Stres mengurangi jumlah sel darah putih penangkal infeksi tubuh, dan selama bertahun-tahun, dapat berkontribusi pada nyeri punggung bagian bawah, sakit kepala tegang, detak jantung yang cepat, masalah menstruasi, dan bahkan infertilitas.

"Saya berani bertaruh bahwa kamu dapat merasakan ketegangan di bahu, perut, dan di bagian lain dari tubuhmu," kata Linda Stroh, profesor Emeritus of Organizational Behavior di Loyola University, Chicago.

"Kamu akan menghabiskan banyak waktu merencanakan kebohongan, melaksanakannya, dan menjaganya (agar tidak ketahuan --red)."

Dan itu bisa sangat menguras tenaga. Dibutuhkan banyak energi fisik dan mental negatif untuk mempertahankan kebohongan.

"Kita harus berpikir sebelum menjawab dan kita harus merencanakan apa yang kita katakan dan lakukan, daripada mengatakan dan melakukan apa yang lebih alami. Kita membuang banyak waktu berharga untuk menutupi jejak kita daripada menghabiskan waktu itu dengan cara yang positif, melakukan hal baik."

 

Sumber : detikom

 

Reporter: Xrimhsak
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler