Sejarah Istilah Ngabuburit, Siapa yang Pertama Kali Mengenalkan?

Jumat, 23 April 2021 16:17 WIB

Share
Ilustrasi kondisi masyarakat sedang ngabuburit di pasar Ramadhan pinggir jalan. Sumber Foto: Ceritavicky
Teras Bekasi - Ramadhan merupakan bulan suci umat islam dan pastinya memiliki banyak momen yang dirindukan. Entah itu momen bangun pagi buta untuk sahur, ataupun saat berbuka bersama kehangatan keluarga. Hal lain yang sepertinya sangat dirindukan adalah momen ketika kita menunggu adzan maghrib atau yang biasa disebut dengan ngabuburit.

 

Dilansir dari Kompas.com, ngabuburit merupakan  salah satu tradisi yang identik dengan bulan Ramadhan. Ngabuburit atau tradisi menunggu berbuka puasa ini biasanya diisi dengan kegiatan berburu takjil, melakukan kegiatan sosial, atau sekadar berkumpul bersama kerabat dan sahabat.

Bila melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kamu tak akan menemukan arti kata ngabuburit. Pasalnya, kata ngabuburit diketahui berasal dari bahasa Sunda. Dilansir dari Tribunnews.com, arti kata ngabuburit bisa ditemukan di Kamus Bahasa Sunda. Berdasarkan Kamus Bahasa Sunda yang diterbitkan oleh Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS), kata ngabuburit berasal dari kalimat "ngalantung ngadagoan burit".

Kalimat "ngalantung ngadagoan burit" berarti bersantai sambil menunggu waktu sore. Sebab, ngabuburit memiliki kata dasar "burit" yang memiliki arti sore hari.

 

Seiring berjalannya waktu, istilah ngabuburit kemudian digunakan untuk menyebut kegiatan yang dilakukan pada sore hari guna menunggu waktu berbuka puasa. Tetapi, ada pula daerah di Indonesia yang memilih menggunakan istilah dalam bahasa daerahnya untuk menyebut kegiatan menunggu waktu berbuka puasa. Misalnya, kata "malengah puaso" yang berasal dari bahasa Minang yang memiliki arti kegiatan untuk mengalihkan rasa haus dan lapas karena berpuasa.


Sebagaimana dikutip dari Kumparan.com, ngabuburit biasanya dilakukan diantara pukul 15.30 sampai 17.30 waktu setempat atau sering disebut ba’da Ashar. Pada awalnya, kegiatan ngabuburit sendiri diisi dengan berbagai kegiatan religius, seperti pesantren kilat.

 

Tetapi, seiring perkembangan zaman, ngabuburit di Indonesia mulai berkembang menjadi berbagai aktivitas yang lebih bervariasi.

Contohnya saja, banyak juga mereka yang menghabiskan waktu ngabuburit dengan berwisata kuliner atau membeli makanan atau takjil untuk berbuka, sampai sekadar acara kumpul-kumpul sahabat.

 

Tak tau kapan  istilah ini pertama kali dikenal dan siapa yang mengenalkannya, yang pasti masyarakat kita sudah sangat familiar menggunakannya sepanjang Ramadhan. Melansir dari Bombastis.com, pada tahun 1980-an terdapat sebuah pertunjukan bertajuk Musik Ngabuburit diadakan di Kota Kembang, Bandung. Tentu saja dari namanya sepertinya acara tersebut syarat akan unsur islami, entah itu dari pengisi acaranya atau penonton yang sama-sama menanti waktu berbuka.

Halaman
1 2
Reporter: Terasbekasi1
Editor: Kashmirx
Sumber: -
Berita Terkait
Berita Terkini
Komentar
limit 500 karakter
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Berita Terpopuler